We love each other, we respect each other and we wish to be happy ever after

25 Desember 2015

Lama Tidak Blogging

Waaah sudah laaamaa sekali ga buka blog ini kayaknya lebih 1 tahun, sepertinya debu nya udah tebel banget...
Maklum kerja pagi pulang maghrib, trus ngurus anak dua membuat waktu sepertinya kuuraang, boro-boro ber sosial media, motongin kuku anak aja kadang seminggu sekali hahaha.. 

Okay, nanti setelah punya waktu agak luang, saya akan tulis tentang pengalaman melahirkan anak kedua setahun yang lalu, yang ujung-ujungnya gak ke Hermina ataupun KMC, hahaha kemarin akhirnya saya memutuskan ke RS Siloam TB SImatupang dengan Dr.Shirley.. hehhee

Well, see you All :) :)

09 Mei 2014

Biaya Melahirkan Rs Hermina Ciputat

Harga Update per 8 Mei 2014:


(Fotonya agak berbayang, ngambilnya buru2 sih :p)
Untuk harga yang tertera tersebut, belum termasuk obat-obatan katanya, jadi bisa diestimasikan harga tsb ditambah 20%-30% untuk obat-obatannya



Hamil 2 Bulan- Kontrol ke RS Hermina Ciputat

Tulisan kali ini saya buat untuk menepati janji saya untuk mereview hasil cek kehamilan di RS Hermina Ciputat.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, untuk kehamilan kedua ini saya berencana untuk mencari RS selain KMC, bukan karena kecewa terhadap pelayanannya, tapi lebih karena harga-nya yang saya rasa Over Priced buat saya. Untuk masalah pelayanan sih KMC Oke banget, masalah pemberian obat dan treatment pasien pun saya gak perlu khawatir. Tapi karena mahalnya itu akhirnya memaksa saya harus mencari alternatif RS lain untuk bersalin nanti.

Tadinya berpikir tetap mau ke Obgyn saya waktu melahirkan anak pertama dulu, karena sudah cocok dan sreg dan terbukti pro-normal. (Padahal saya mengalami ketuban pecah duluan dengan jangka waktu lebih dari 8 jam, namun alhamdulillah tetap diusahakan normal, yah walau dengan induksi sih). Saya berencana dan saat ini sedang melirik RS Hermina Ciputat untuk proses bersalin nanti (namun saat ini belum menjatuhan pilihan pasti ke sana, karena belum menemukan DSA-nya saat kelahiran nanti).

Setalah  galau mencari Obgyn pengganti Dr Diah karena beliau sedang cuti dari RS Hermina Ciputat karena sekolah lagi, akhirnya pilihan saya jatuhkan kepada Dr. Riana Kadasari, SPOG. Dua kali kontrol kehamilan dengan beliau, ini kesan saya:
- Sama seperti Dokter Diah, Dokter Riana juga lulusan FK UI (penting ini buat saya dalam menentukan dokter, hehe karena saya tahu passing grade mau masuk FK UI itu luar biasa tingginya, bahkan paling tinggi untuk sesama Jurusan Kedokteran Umum di PTN Indonesia)
- Peresepan vitamin atau obat oleh dokter Riana, mirip seperti kontrol saya di KMC dulu.
- Komunikatif, menjawab pertanyaan sampai detail juga dengan contohnya bahkan pertanyaan di luar topik kehamilan pun (post natal) dijawab  yang akhirnya membuat saya menyimpulkan, "saya cocok" nih. Pola pengobatannya tidak melenceng dari WHO, karena setiap penjelasan beliau selalu mendasarkan WHO dan memberi contoh Jurnal ilmiah juga.
-Kunjungan pertama saya tidak diberi no hp nya secara langsung, pada kunjungan kedua setelah saya minta beliau baru berikan.

Karena saat ini saya masih menyusui anak pertama, beliau tidak melarang karena penelitian dari WHO pun tidak menunjukkan ada bahayanya ibu hamil yang masih menyusui, namun si ibu harus menjaga asupan nutrisinya, itu pesannya. Namun sejak Alysa tepat menginjakkan usia 16 bulan, saya sudah tidak memerah lagi selama di kantor, saya hanya menyusui di malam hari ketika di rumah.

Plus-nya RS Hermina Ciputat :
1. Ada PMO-nya (Personnal Maternity Officer) yang siap sedia dihubungi kapanpun, meskipun DSOG nya juga memberikan no Hp-nya.
2. RS nya karena masih baru jadi bersih dan tidak crowded.
3. Biaya ce kehamilan Muraaaah bow! (Cek kehamilan oleh DSOG plus USG hanya bayar Rp147.000)
4. Harga Vitaminnya pun tidak di atas HET (Harga Eceran Tertinggi)
5. Biaya bersalinnya relatif jauh di bawah KMC.

Minus-nya :
1. Jalur macet (apalagi kalo jam pulang kerja, sama pagi-pagi kali ya), meskipun melalui jalan tol sekalipun selancar lancarnya jalan saya butuh waktu 30 menit untuk tiba di sana dari area Ragunan. Ini yang jadi pertimbangan nantinya kalau mau melahirkannya kebetulan waktu macet dan hari kerja, sepertinya tetap harus menyiapkan alternatif lain----> KMC lagi
2. Ada harga ya ada rupa, dari segi bangunan dan interiornya kalau dibandingkan dengan KMC ya beda. Tapi karena masih baru RS Hermina bagus ko dan lumayan nyaman juga, misal pas ngantri, dan gak bau obat kaya Rumah Sakit gitu... nanti saya update fotonya ya...

Ini adalah ruang suster atau perawat-nya yang biasa melayani tensi dan timbang sebelum masuk ke ruang dokter



Ini tempat menyerahkan resep




Di dalam ruangan kaca adalah ruang laboratorium

02 April 2014

Alhamdulillah.. Diberikan Amanah Kehamilan Anak Ke-2

Bulan April ini adalah bulan yang menggembirakan bagi saya dan keluarga, karena di bulan ini kami mengetahui bahwa saat ini saya positif hamil anak kedua. Pada mulanya saya dan suami memiliki rencana untuk program anak kedua dengan jarak 2 atau 4 tahun dari anak pertama, tapi ternyata Allah berkehendak jarak anak pertama dan kedua adalah 2 tahun, alhamdulillah.

Di kehamilan kedua yang saat ini baru berusia 5 minggu ini, saya belum mengalami morning sickness hanya saja untuk bau-bau yang sedikit menyengat, bau apapun itu mau wangi parfum atau bau ga enak, saya sudah mulai merasa terganggu. Untuk makanan, sampai dengan saat ini alhamdulillah belum ada masalah.

Di kehamilan ini ada yang mengganjal, yaitu masalah dokter kandungan. Saya dan suami semula prefer dengan dokter yang menangani anak pertama, yaitu dr. Diah Sartika Sari, SPOG. Tapi sepertinya anak kedua ini saya mempertimbangkan untuk tidak melahirkan di KMC lagi karena harganya rasanya sudah tidak bisa disesuaikan lagi dengan kantong keluarga karena saat ini banyak prioritas lain yang juga penting. haha intinya saya berkeinginan untuk mendapatkan dokter kandungan dan dokter anak yang RUM dan pro normal, pro ASI dan mendapatkan pelayanan kesehatan seperti di KMC tapi dengan harga yang lebih terjangkau :D

Dan akhirnya pencarian pun akhrinya menemukan titik terang, berdasarkan informasi yang saya peroleh ternyata dokter Diah juga praktek di RS Hermina Ciputat, dan dengan biaya kontrol serta biaya melahirkan yang jauh lebih murah dibandingkan dengan KMC. Sayangnya,, setelah saya cek ke bagian informasi RS Hermina Ciputat, ternyata saat ini dokter Diah sedang melanjutkan sekolahnya lagi dan baru akan praktek tahun depan *dweng* tahun depan mah saya udah lahiran kali yaaa....

Yasudahhlaah... langsung deh gali-gali info dokter lainnya, menurut informasi dan beberapa rekomendasi, berikut ini adalah list dokter perempuan yang direkomendasikan:

1. Dokter Shirley, SPOG. Praktek di KMC
    Karena sedang menghindari KMC dulu, jadinya ya saya mau cari opsi lain deh.

2. Dokter Dewi Prabarini, SPOG. Praktek di Brawijaya Woman and Children Hospital, dan RS Puri Cinere
    Hmm... BWCH itu mahalnya sama dengan KMC jadi bukan opsi kali ya.
    Kalo RS Puri Cinere untuk ditempuh dari rumah ataupun kantor kayaknya agak jauh, belum lagi     kalau macet. Jadi nanti dulu deh..

3. Dokter Diana M.Ratna Asih, SPOG Praktek di BWCH dan RS Hermina Ciputat
    Untuk yang di BWCH enggak, tapi bisa jadi opsi yang Hermina Ciputat

4. Dokter Riyana Kadarsari, SPOG Praktek di Hermina Ciputat
    Mungkin bisa jadi opsi yang di Hermina Ciputat

Dan akhirnya saya buat appointment ke dokter Riyana di Hermina Ciputat besok. Untuk review-nya menyusul ya.. semoga saya cocok dan mendapatkan apa yang saya idamkan... best price with best services :)

Note: bisa saja penggalian informasi saya kurang maksimal, dan pasti ada dokter yang lebih baik dari yang saya tulis, ini hanya preferensi saya yang saya kerucutkan menurut domisili saya saja. So, jangan dijadikan patokan yaa... *beli handphone aja browsing dulu spek2nya, kurang dan lebihnya, masa untuk layanan kesehatan pasrah saja dan ga cari informasi reviewnya* be smart patient! :)

19 September 2013

Dirawat karena Demam Dengue dan Demam Tifoid

Saya ga nyangka banget deh bakal balik lagi ke Rumah Sakit ini dalam tahun yang sama dalam kondisi opname. Apalagi mengira bakal terjangkit demam dengue plus demam tifoid dalam satu waktu, ga banget deh..

Cuma ya mau bagaimana, mungkin jalannya harus seperti ini, harus pait gini dulu, baru kemudian saya petik hikmahnya untuk lebih menjaga kesehatan, memperhatikan pola makan dan keteraturan serta mensyukuri saat Allah memberi kita kesehatan.

Sedikit bercerita, kronologinya begini, 

Sabtu malam minggu, tanggal 14 September2013
Saya tidak makan malam *noted*, cuma ngemil puding buah vla coklat trus bablas bobok.
Tengah malam, menggigil kedinginan.

Minggu, 15 September 2013
Pagi biasa aja, menjelang siang, langsung demam tinggi 38.7 der cel dan ini berlangsung berjam jam sampai dikompres air hangat baru kemudian demam turun. Selain demam tinggi, gejala lain yang saya rasakan adalah sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri persendian, lemaaas berat.  Karena panic, saya buru2 hubungi no telp Markas Sehat di Komplek PWRI jatipadang untuk daftar kunjungan, namun sayang sms saya tidak dijawab pada hari itu juga.

Senin, 16 September 2013
Dari pagi sampai malam demam naik turun dengan suhu tertinggi mencapai 39,2 der celcius. Saya minum paracetamol. Ohya, saya sengaja belum periksa karena nunggu demam 3x 24 jam lebih dahulu , karena kalaupun mau tes darah, hasil tes darah akan efektif bila dilakukan setelah 72 jam. 
Ohya, sms yang saya tujukan ke Markas Sehat kemarin, hari seninnya dijawab bahwa hari minggu dokter markas sehat berhalangan praktek. 

Selasa, 17 September 2013
Hari ini adalah hari ketiga, dan ternyata masih demam tinggi juga. Siang hari saya sms ke markas sehat lagi, namun jawaban sms tak juga ada. Saya coba telpon dua nomornya yaitu flexi dan no simpati, tapi tidak ada yang jawab. Dan kebingungan pun melanda saya... Gue mau konsul ke siapaaa? Secara ga punya contekan atau rujukan dokter umum yang RUM lagi, yah ada sih pilihan dokter RUM lagi ya ke KMC *langsung berpikir ekonomis, kmc kan lumayan mihil boow*
Dan setelah nunggu berjam jam, baru jam 4 sore markas sehat membalas sms saya, menyatakan bahwa hari tersebut dokter tidak praktek. Jujur sedikit kecewa, kenapa setelah berjam jam baru menjawab dan memberikan pernyataan tidak praktek, padahal saya menunggu jawaban itu dalam kondisi saya yang sudah sangat lemah. Kalau dijawab dari siang bahwa mereka tidak praktek saya kan bisa langsung ke dokter lain, ga perlu nunggu sampai sore gitu. 

Akhirnya diputuskan, bada magrib menuju dokter KMC saja, RUM juga dah jelas, dan kondisi saya semakin melemah. Sampai di KMC diperiksa dokter umum, diminta cek darah. Kemudian satu jam kemudian hasil lab sudah didapatkan, eng ing eng... Sebagai orang awam saya sudah bisa membaca ada yang ga beres nih dengan hasil tes darah saya dan ternyata setelah dibacakan hasilnya oleh dokter jaga UGD, dinyatakan NS-1 positif, yang mana artinya saya positif terjangkit demam dengue atau banyak dikenal dengan DB/DBD, padahal dengue belum tentu DBD. Dan yang buat shock lagi, tes Tubex TF nya hasil angkanya 5 padahal batas normalnya ga boleh lebih dari 2. yang artinya, tifoid juga. Pasrahhh dehh.. Waktu konsul pembacaan hasil tes darah okeh dokter jaga UGD beliau menyarankan untuk di rawat saja.. Namun beliau sih memberi opsi.. Coba liat perkembangan besok pagi... Kalau membaik trombositnya boleh tidak dirawat.. Artinya adalah besok pagi harus tes darah lagi.. Duh parno banget kalo di ambil darah.. akhirnya setelah meminta pendapat suami kami putuskan malam itu untuk pulang dahulu baru kemudian paginya tes darah. *sebenernya sih saya bermaksud ga rawat di kmc,, mengingat di kmc pasti menguras tabungan.. Haha sakit juga masih peritungan* secara saya ga punya asuransi kesehatan, kecuali Askes. (Kalau askes artinya harus di Rs Pemerintah). Saat itu bukannya saya ga mau ke Rs pemerintah.. Tapi kebayang aja macetnya dari rumah atau kantor suami ke rs fatmawati kalo saya harus rawat di Rs fatmawati *itu pendapat suami*. Ya sudah saya kasih opsi Rs Marinir aja, kan deket dari kantor. Tapi ternyata suami ga setuju kalo saya di rawat di situ * dalam hati Yess! * hahaa. Dan pertimbangan pun tertuju pada RS JMC atau KMC *lagiii?* ya.. 

Akhirnya suami ngasih pertimbangan dan keputusan, dah ke KMC lagi aja yg udah jelas RUM, pertimbangan RUM jd perhatian utama kami, karena saya masih menyusui, dan saya kena tifoid, artinya saya perlu antibiotik. Dengan dokter yang RUM seharusnya memperhatikan kondisi menyusui dan spektrum antibiotik yang akan diberikan kepada saya.  dan deket juga dr kantor.. Saya bilang, "yakin nih, gkpp? Suami ternyata mantap merawatkan istrinya ke kmc lagi... Baiiiikklaaah... *kecup sayang Ayah* dan akhirnya merasakan yg namanya dirawat di RS karena sakit (bukan melahirkan). Dan di sana, saat itu saya benar2 merasakan namanya perjuangan memberikan ASIX. Beraaat sekali rasanya pisah bobok sama anak.. Dan perjuangan memerah asi dengan pompa manual saya, hanya sengan satu tangan (karena tangan satunya lagi di infus). Hal ini memberikan saya pelajaran berharga,, bahwa kesehatan itu mahal harganya *benerrrr banget*.

Review pelayanan KMC masih oke sama seperti waktu melahirkan dulu,, tapi di lantai yg ini kamarnya berasa lebih kecil dibandingkan kamar saat melahirkan dulu ya, padahal sama sama kelas 1. Untuk makanan, kmc selalu bisa buat pasiennya jadi nafsu makan. Jadi makanan yg digidangkan ga seperti makanan a la rumah sakit gitu. Oke deh menurut saya, seperti ini nih contohnya : 








06 September 2013

Dear my husband

Dear Mr.Mohamad Endhy,

Kupanjatkan dengan penuh pengharapan, Semoga Allah Yang Maha Kuasa selalu memberikan perlindungan-Nya dalam tiap langkahmu, menjagamu, memudahkan dan meridhoi usahamu memperoleh rizki, memberikanmu nikmat kesehatan, ketaatan beribadah dan selalu mengumpulkan keluarga kita dengan sakinah, mawaddah, warohmah. Amin.

Sebagai istri, aku mungkin memiliki banyak kekurangan, semoga mas selalu sabar dan setia membimbingku dan bersama-sama membesarkan buah hati kita serta menuntunnya untuk menjadi hamba Allah yang soleha dan penuh takwa.

Sebagai seorang suami dan ayah dari anakku, kau selalu teristimewa, dihatiku.



Tiup Lilinnya besok aja kalau udah pulang yaaa.. hehe


Happy Birthday Dearest!
And though i can't be with you tonight, you know my heart is by your side.

-Mrs.Endhy/ Bunda Alysa-

23 Juli 2013

Lulus ASIX dilanjutkan dengan MPASI

Alhamdulillah...... sedikit lega rasanya saat Alysa genap berusia 6 bulan, dan saya berhasil memberikan   Asi Eksklusif. HOreee... Sudah lulus S1 ASIX... Mudah2an bisa berLanjut ke S2, atau hingga S3 ASIX.amiiiiin.
Sebetulnya bukan perkara mudah bagi working mom seperti saya untuk memberikan hanya Asi, tanpa bantuan Sufor, tapi bukan hal sulit juga tentunya. Ketika kita memiliki niat, insyaAllah bisa. Dan terbukti, alhamdulillah, dengan penuh perjuangan tentunya, di tengah kondisi lingkungan kerja yang kadang mendukung kadang tidak, akhirnya selesai juga tahap minimal pemberian ASI. Fiuuuuuh *lap lap keringat* hehehe

Tapi kondisi ini tidak lantas membuat saya tenang... Target Asi selama 2 tahun masih panjaaaaaang. Tetap semangat.. Tetap konsisten mompa dan tetap memotivasi diri. PR saya berikutnya yang ada di depan mata adalah MPASI. Terus terang penggalian informasi seputar MPASI untuk Alysa hanya berlangsung dalam 2 minggu persiapan (kebiasaan kalo ngapa2in suka deadline). Dan inilah yang membuat saya sedikiiit stress... Eh banyak ding.. Hahaha.. Bacaan saya belum lengkap, guideline dari WHO dan Unicef belum khatam, aneka resep mpasi juga baru dikit. Dan dalam sisa waktu seminggu Finally saya sudah memantapkan diri dan tentunya menyiapkAn jadwal pemberian makan Alysa selama 30 hr ke depan. Soal aliran? Ya WHO dong pastinya... Udah jelas, lengkap, terbukti secara ilmiah jadi saya tinggal terapkan saja. Masalah resep tinggal disesuaikan dengan local food yang ada di Indonesia. 

Ohya soal aturan tunggu 3days rule itu, setelah berkonsultasi dengan DSAnya ternyata ga saklek-saklek amat ko.. Aturan tunggu tsb berlaku pada makanan dengan kadar protein tinggi yang membawa potensi alergi pada anak. Misal: telur, kacang2an, ikan ikan dsb. (Browse: makanan dengan kadar protein tinggi). Dan kebayang juga kan kalo dalam tiga puluh hari saklek pergantian hanya tiap 3 atau 4 hari, keragaman makanan yg dikenal variasinya akan berkurang dong. Jadi yang saya terapkan pada Alysa untuk makanan dengan kadar proten tinggi saya ulang 2-3 harii, namun untuk jenis sayur dan golongan padi2an saya perbarui terus. Dengan tujuan supaya anak lebih banyak dan bervariasi mengenal jenis makanan , mudah2an nantinya tidak picky. Untuk pilihan sayur2an saya usahakan selalu hanya memberikan sayuran organic dan free pestisida. 

Mudah mudahan proses Pemberian MPASI Alysa tidak menemui kendala, amin.